Melihatmu,
sedang kupahat sebuah kekuatan ritmis di hatiku
karena ketegaran seolah corak yang sakral di wajahmu,
entah aku belum mengenal,
entah belum erat tangan kita berjabat,
aku tak ingat keluhan sakral apa yang pernah kau ucap.
hanya lelucon, tawa yang bingar
atau semangat yang menyelinap dari
barisan kata dan ceritamu, lalu tertawa lagi
berkali-kali,
kudefenisikan lakonku adalah kegagalan
di setiap sisi dan jalan.
berkali-kali,
kulacurkan tangis penawar kelat
kisah lalu, tentangnya
telah banyak waktu kuhabiskan
di labirin ini, aku tersesat lama
ah,
jika lentera yang kau bawa,
jangan lakukan setengah hati
karena redup tak kan mampu
menerangi jiwa yang lama gelap
jika lengan yang kau tawarkan,
jangan julurkan setengah hati
karena lemah tak akan mampu menarik
rasa yang kaku
kenapa tidak mencari,
dimana setengah hati lagi bersembunyi
210109
sedang kupahat sebuah kekuatan ritmis di hatiku
karena ketegaran seolah corak yang sakral di wajahmu,
entah aku belum mengenal,
entah belum erat tangan kita berjabat,
aku tak ingat keluhan sakral apa yang pernah kau ucap.
hanya lelucon, tawa yang bingar
atau semangat yang menyelinap dari
barisan kata dan ceritamu, lalu tertawa lagi
berkali-kali,
kudefenisikan lakonku adalah kegagalan
di setiap sisi dan jalan.
berkali-kali,
kulacurkan tangis penawar kelat
kisah lalu, tentangnya
telah banyak waktu kuhabiskan
di labirin ini, aku tersesat lama
ah,
jika lentera yang kau bawa,
jangan lakukan setengah hati
karena redup tak kan mampu
menerangi jiwa yang lama gelap
jika lengan yang kau tawarkan,
jangan julurkan setengah hati
karena lemah tak akan mampu menarik
rasa yang kaku
kenapa tidak mencari,
dimana setengah hati lagi bersembunyi
210109

Tidak ada komentar:
Posting Komentar